Di rumah itu, seorang ibu selalu menunggu anak-anaknya pulang. Setiap sore, ia duduk di dekat jendela sambil memandang jalan yang mulai sepi.
Dahulu, rumah itu selalu ramai oleh suara tawa, cerita, dan aroma masakan dari dapur. Namun, waktu berjalan begitu cepat. Anak-anaknya tumbuh dewasa, pergi mengejar impian, dan perlahan-lahan jarang pulang.
Ibu itu tidak pernah marah. Ia hanya berkata, “Tidak apa-apa, Nak. Ibu tahu kalian sedang berjuang.”
Suatu hari, salah satu anaknya pulang tanpa memberi kabar. Ia melihat rambut ibunya yang semakin putih dan langkahnya yang tidak lagi kuat.
Saat itulah ia menyadari sesuatu: selama ini ia sibuk mengejar dunia, sampai lupa bahwa ada seseorang yang selalu menunggunya di rumah.
Sejak hari itu, ia berjanji untuk lebih sering pulang. Sebab, rumah bukan sekadar bangunan. Rumah adalah tempat seseorang tetap mencintai kita, bahkan ketika dunia terasa tidak berpihak.
Pesan kehidupan: Jangan menunggu kehilangan untuk menghargai orang-orang yang selalu menyayangi kita. Sebab, waktu tidak pernah berjanji akan memberikan kesempatan kedua.
